A Journey

ajourneya journey

a story by violetkecil

Cast: Luhan and Sehun ┇ Pairing: Hunhan
Length: Ficlet ┇ Genre: Hurt-Comfort, Band!Fic ┇ Rating: General

Oh God, Sehun! Sudah berapa kali Hyung katakan, huh? Setiap manusia memiliki batas kemapuan fisik, dan memaksakan dirimu menghabiskan berjam-jam di ruang dance hingga menjelang pagi hanya akan menyakitimu. Hyung tidak—“

Luhan menghetikan kalimatnya ketika dirasanya ada sentuhan lembut tangannya yang sedang menyentuh dahi Sehun. Luhan memandangi tangan yang hangat itu dan kemudian beralih memandang balik mata yang sedang menatapnya dengan sendu.

“Aku tidak apa-apa, Hyung. Sungguh.”

“Tapi—“

“Hanya demam, dan dengan beristirahat juga akan sembuh,” ucapnya diiringi dengan senyuman yang coba meyakinkan.

“Hanya deman?! Tapi—“

“Ssst,” Sehun meletakkan jari telunjuk di depan bibir Luhan. “Berhenti terlalu khawatir, Hyung. Aku akan baik-baik saja. Percayalah.”

“Tapi, Sehun-ah, kau—“

“Apakah aku harus menciummu agar kau berhenti bicara, Hyung?” tanya Sehun jahil yang kemudian mendapatkan pukulan kecil.

“Aku sedang sakit, Hyung. Berhenti memukuliku,” rengeknya masih dengan nada jahil.

Luhan memegang janjinya ketika ia berkata ia akan selalu melindungi Sehun. Ia ingat ketika pertama kali bertemu dengan Sehun. Bocah laki-laki dengan tubuh yang tidak jauh tinggi dengannya dan mata yang hilang ketika ia sedang tersenyum. Sosok begitu polos yang membuat Luhan ingin memberinya seluruh dunia yang aman dan memeluknya agar ia menjalani hari-hari dengan nyaman. Seperti malaikat yang melindungi di bawah sayap hangat.

Luhan memastikan untuk selalu berada di sisi Sehun saat ia lelah dan ingin menyerah. Luhan-lah yang mengulurkan tangan pada Sehun yang duduk di sudut ruang dance. Luhan-lah yang kemudian mengajak Sehun berlari ke luar gedung. Dengan nafas memburu, terengah-engah dan kemudian diiringi dengan tawa.

Luhan menyakinkan Sehun bahwa dunia akan menjadi baik padanya jika ia melihat dari sisi positif. Luhan akan selalu menyentuh dagu Sehun—mengelusnya lembut. Terkadang memasang wajah komikal yang kemudian membuat Sehun tersenyum.

Luhan menarik tangan Sehun dan menggenggamnya—mengatakan ia tidak sendiri karena Luhan akan selalu ada untuknya. Luhan menenangkannya di belakang panggung debut mereka. Menggenggam tangannya erat dan mengucapkan, “Semuanya akan baik-baik saja. Kau sudah berlatih keras, dan aku yakin kau akan membuat gadis-gadis di luar sana jatuh cinta padamu.”

Hyung, apa yang akan terjadi pada kita?”

Luhan memiringkan badan—menghadap Sehun yang masih menatap lurus pada pekatnya langit. Ia memandangi wajah polos yang perlahan terlihat dewasa. Ujung jemarinya menyentuh garis rahang. Kulit lembut yang bersentuhan membuat jantungnya berdetak cepat.

“Berapa lama kau akan berada di Cina, Hyung?”

“Tidak akan lama. Tanpa kau duga, aku akan sudah berada di depanmu. Dan, Sehun-ah, kita akan baik-baik saja. Kau akan tetap jadi dongsaeng-ku yang paling berharga. Jarak bukan masalah, karena ingatlah, aku akan selalu kembali.”

Sehun menggenggam jemari Luhan yang menyentuh dagunya. Meletakkannya di depan bibir.

“Aku akan merindukanmu, Hyung.”

“Aku juga. Dan, ingatlah, jika kau ada masalah atau ada yang ingin kau ceritakan, hubungi Hyung. Hyung akan selalu membantumu, Sehun-ah.”

Luhan berdiri di sana memandangi Sehun—seakan ingin menyakinkan apakah yang ia lakukan benar. Dan Sehun akan berada di sana—memandanginya balik—mengangguk dan tersenyum. Mengatakan dalam hati, “Kau hebat, percayalah, Hyung.”

Luhan akan mengedarkan pandangan mata jika ruang di sampingnya kosong. Pandangan matanya akan otomatis tertuju pada sosok yang kini jauh lebih tinggi darinya. Ia kemudian akan tersenyum dan memastikan ruang itu tidak lagi kosong. Tangan kemudian saling bertaut, dan Luhan yakin hanya jari jemari itu yang bisa mengisi kekosongan di antara jari jemarinya.

Luhan terkadang suka bertingkah konyol, dan Sehun akan selalu menjadi partner-in-crime. Ia masih menyimpan semua selca mereka, dengan wajah aneh atau sekedar senyuman yang menghiasi bibir keduanya. Dengan ‘bocah’ itu Luhan merasa nyaman.

Dan, Sehun-lah yang selalu meyakinkannya untuk itu.

“Berhenti dance dan memandangi cermin itu ratusan kali. Kau memang tidak sempurna tapi kau sudah memberikan yang terbaik dan itu cukup Hyung.”

Sehun mematikan musik dan menarik tangan Luhan. Kedua tangan di bahu Luhan dan memaksanya membalas tatapan mata Sehun. Luhan merasa sangat rapuh dan tidak berarti apa-apa.

“Tatap aku, Hyung. Kau lihat? Itulah dirimu. Caraku menatapmu mungkin seperti cara fans menatapmu. Kagum dan penuh cinta. Jangan memaksakan dirimu. Aku tidak ingin kau justru menjadi hancur karena memaksakan diri terlalu keras, Hyung. Kau, apa adanya dirimu, sempurna dengan ketidaksempurnaan itu. Karena itulah dirimu. Hyung-ku yang hebat.”

Luhan tidak menjawab dan memilih menyadarkan kepala di dada Sehun.

“Hyung, do you remember what we talked about recently? Please try to believe what I say! Wo ai ni.”

Luhan tahu semua tidak hanya tentang dirinya. Dan ia tahu hidup ini tidak bergerak hanya di sekitarnya. Ada banyak yang menjalani kehidupan dengan ceritanya masing-masing. Terkadang Luhan berharap ia bisa merangkai sendiri cerita yang ia mau. Andai ia bisa.

“Sehun-ah, bisa kau menemaniku besok? Besok hari libur kita, kan?”

“Maaf, Hyung. Tapi aku sudah ada janji. Hyung yang lain mengajakku shopping.”

“Oh.”

Karena terkadang orang lain yang terlebih dahulu memalingkan punggungnya dan kita hanya bisa berdiri terpaku di sana.

“Sehun-ah, kau tahu kontrakku berbeda dengan yang lainnya?”

“Kau akan pergi juga, Hyung? Seperti Kris Hyung meninggalkan kita begitu saja?”

“Jangan bawa-bawa Kris. Dia pasti memiliki alasan untuk pergi.”

“Tapi ia tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal?”

“Sehun-ah… kau—“

“Aku tidak memiliki hak untuk berbicara seperti itu?” potongnya. “Aku harusnya bisa tenang dan menerima semuanya. Sama seperti jika suatu saat nanti kau pergi?” Nada suaranya semakin meninggi.

Luhan menyembunyikan luka dari kata-kata itu. Ia berusaha agar rasa sakitnya tidak terpancar pada tatapan matanya. Sehun tidak boleh tahu.

“Aku tidak akan—“

“Kau tidak akan pergi meninggalkan aku? Meninggalkan EXO? Meninggalkan semua kenangan dan perjalanan yang sudah kita lalui bersama ini?”

“Sehun-ah…” ucapnya lirih dan Sehun tidak lagi mendengarnya.

Pertama kali Luhan membiarkan dirinya kalah oleh airmata, Sehun tidak ada disana. Pertama kali Luhan jatuh terduduk di ruang latihan, Sehun sedang bercanda dengan member yang lain. Pertama kali Luhan merasa dunia berputar cepat, Sehun tidak sedikitpun menatap.

“Apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri Hyung?”

“Sehun-ah?” Luhan membuka mata dan duduk dengan cepat. Membuat kepalanya kembali pusing dan ia hanya bisa melihat Sehun dengan samar.

Ini pertama kalinya Sehun berbicara padanya sejak perdebatan mereka waktu itu. Ia bisa melihat wajah lelah dan mata penuh kekhawatiran. Dan di balik itu ia bisa melihat kembali sosok Sehun-nya.

“Maaf,” ucapnya sambil memeluk Sehun. Luhan coba merekam dalam ingatan aroma tubuhnya. Merekam detak jantung mereka yang terdengar lantang di ruangan yang hanya ada mereka berdua. Ia ingin agar ia tidak melupakan semua itu.

“Maafkan aku, Sehun-ah.”

Luhan ingat semua janjinya untuk selalu melindungi Sehun dari apapun. Melindungi Sehun dari fans saat di bandara. Melindungi Sehun dari tingkah jahil Baekhyun. Melindungi Sehun dari komentar negatif. Melindungi Sehun dari kemarahan manajer dan pelatih dance. Tapi, Luhan lupa. Ia tidak mampu melindungi Sehun dari dirinya.

Luhan berjanji tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Sehun, tapi ia justru membiarkan dirinyalah yang menyakiti Sehun.

Tapi, Luhan juga tersakiti lebih dari yang Sehun rasa.

Stage terakhir dan tidak ada senyuman dan tatapan mata hangat yang biasa tertuju padanya saat ia berbicara. Terlalu menyakitkan untuknya, dan hanya lengan Lay yang melingkar di bahunyalah yang menenangkannya. Mereka tidak saling bicara.

Karena apa yang telah kau tinggalkan tidak akan lagi menjadi milikmu. Ia tahu itu dan ia tahu ia tidak boleh menyesal.

“Sehun-ah, maafkan aku…”

Ada senyum tipis yang dipaksakan, “Tidak perlu minta maaf, Hyung. Kau tidak salah. Pergilah jika itu bisa membuatmu lebih baik.”

“Sehun-ah—“

Sehun memotong kata-kata Luhan dengan pelukan. “Sst, kau harus bahagia, Hyung,” ucapnya dengan senyuman yang menyakitkan. Sehun mengecup lembut puncak kepala Luhan.

Jarak bukan masalah, karena ingatlah, aku akan selalu kembali. Sehun ingat kata-kata itu.

Sehun selalu percaya pada Luhan, dan itu yang masih akan terus ia lakukan. Jika dalam beberapa bulan ini ia seakan menjauhi Luhan, itu hanyalah caranya agar ia bisa melepaskan Luhan dengan perasaan yang lebih baik. Itu caranya untuk mengobati rasa sakit tanpa harus menyakiti Luhan dengan kata-kata tajam yang mungkin saja terlontar. Itu cara Sehun melindungi Luhan.

Karena Luhan yang selalu melindungi Sehun, dan inilah saatnya ia melindungi Luhan. Melindungi perasaan yang mereka miliki.

Karena ia percaya suatu saat Luhan akan memenuhi kata-kata itu. Ia akan kembali. Mereka akan bertemu. Di suatu tempat, di suatu waktu, yang hanya mereka berdua yang tahu.

-end

Note: Happy 3 years with Hunhan!!!  Kinda inspired this chat and this. Thanks Erica. I know nothing about them, but I hope what they have is REAL (read: their friendship) and not just fanservice. Because I believe they’re real bestfriend and bestfriend always stay with you FOREVER! my very first OTP (or should I say OTPain T.T) Thank you for this beautiful memories, I love you both Hun to my Han.

And love you all bubblememory’s readers, without you all this blog is nothing.

Advertisements

6 thoughts on “A Journey

  1. Pingback: A Journey | violetkecil

  2. aaaaaaaa
    selalu suka fic kamu yang singkat tp meninggalkan kesan yg dalam deeeek
    huhuhu
    ini air mata maksa untuk keluar
    seandainya bukan di tempat umum
    T.T
    it’s just too beautiful
    ♡♡♡

  3. Keren. Jarak bukan masalah, karena ingatlah, aku akan selalu kembali. Ini harus ditepatin ya, Han!!
    Oh ya, halo kakak. Aku reader baru. Kakak bisa panggil aku Sisil.Salam kenal ^^
    Aku udh baca sebagian FF disini (terutama yg castnya Luhan) dan itu keren, keren banget… Singkat tp padat (?) plus ngena!
    Keep writing ya kak!!

  4. No comment buat isi ceritanya. Tapi -jika gue baca ini sendirian di ruangan yang memungkinkan ditambah dengan lagu don’t go dan baby don’t cry gue yakin gue bakal terbawa dengan emosi di ff ini. Haha, sayang gue baca ini saat lagi di ruang keluarga bareng ortu yang lagi ngomong ini-itu yang cuma bisa gue tanggepin dengan “emh;hm;ya” karena sebenarnya gue berusaha buat fokus di ff ini. Meski begitu… masih ada typo kecil yang terlihat sih. Sisanya gue benar-benar memahami isi ff ini meski fokus gue terbagi-bagi. Intinya gue suka sama ff ini. Walaupun ini akhirnya membuat gue kangen sama mereka. Nah, nah, udahan deh, terakhir, keep writing yaa

  5. Hunhan… Askljhsgd miss them so much T.T
    Hai, saya reader baru. Salam kenal.
    Sebenarnya udah lama nemu wp ini. Mbk violet kecil terkenal sih. Love your fanfic, pendek tapi langsung bikin jantungan. Semoga lebih banyak lagi fanfic unyu di sini. Semangat !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s